manajemen proteksi kebakaran

Kebakaran merupakan suatu hal yang sangat tidak diharapkan. Kejadian kebakaran tidak sering tetapi kondisi yang tergolong bentuk musibah dan kecelakaan ini bisa saja terjadi kapan pun apabila ada kelalaian, kelengahan ataupun peristiwa alam yang bersifat luar biasa. Kekeringan yang melanda suatu tempat dapat memicu timbulnya kebakaran. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan manajemen proteksi kebakaran yang terpadu guna menjinakkan sekaligus menghindarkan dari si jago merah tersebut.

Lingkungan Indonesia yang bersifat tropis memudahkan kebakaran terjadi karena daerah tropik mempunyai kecenderungan panas lingkungan yang relatif tinggi di mana salah satu faktor pencetus terjadinya api adalah panas. Udara Indonesia juga kaya akan oksigen yang tentu saja semakin memicu aktivitas pembakaran. Kemudian faktor material seperti banyaknya lahan tanaman, gambut, pemukiman ataupun benda yang bisa dibakar semakin meningkatkan resiko terjadinya kebakaran.

Kenali Lebih Jauh Tentang Manajemen Kebakaran

Manajemen proteksi kebakaran merupakan segala tindakan dan penanganan yang memiliki hubungan yang signifikan guna melakukan pencegahan dan juga tata laksana yang ditujukan untuk mengurangi pengaruh negatif akibat terjadinya kebakaran di sebuah area atau lokasi. Tindakan penatalaksanaan ini dikerjakan oleh sekelompok personel di dalam sebuah tata kelola organisasi dalam melindungi sarana maupun prasarana baik yang sudah maupun belum terbakar.

Adapun lingkup wilayah tata kelola tersebut dapat di area luas terbuka seperti hutan, lahan gambut, lahan pertanian, hingga lingkungan perkotaan, pemukiman penduduk dan juga area perbelanjaan maupun perkantoran.

Manajemen perlindungan kebakaran tidak memandang bulu apakah lahan tersebut produktif dan dihuni oleh orang penting ataupun tidak. Pengelolaan proteksi kebakaran menyasar ke seluruh sarana dan prasarana masyarakat tanpa melihat kepentingan lahan. Lahan tak berpemilik seperti area vegetasi luas di sebuah lokasi luar perkotaan pun menjadi lingkup proteksi manajemen kebakaran. Kebakaran yang meluas dapat dicegah untuk supaya tidak semakin merusak sarana maupun prasarana di sekitarnya karena api bersifat merambat atau menjalar membakar semua benda yang mampu dijangkau oleh lidah api.

Terdapat beberapa unsur yang diperhatikan dalam penatalaksanaan manajemen proteksi kebakaran, antara lain:

  1. Kepadatan Atau Densitas

Api mempunyai sifat menjalar atau merambat, melompat dan menyebar menjangkau benda ataupun materi terdekat. Kebakaran yang meluas pada umumnya, diakibatkan oleh adanya materi yang bisa dibakar jumlahnya banyak dan tersebar meluas dalam jangkauan jarak relatif dekat atau dengan kata lain mempunyai kerapatan ataupun kepadatan yang tinggi.

Sebagai contoh sebuah lahan yang ditanami aneka vegetasi dengan jarak saling berdekatan atau pemukiman padat penduduk relatif mudah terbakar secara meluas jika dibandingkan dengan kebakaran sebuah bangunan di tengah padang pasir atau di antara batuan tanpa vegetasi. Yang terbakar hanya bangunan tersebut dan tidak akan merambat. Semakin tinggi densitas maka resiko terjadinya kebakaran yang meluas semakin tinggi juga.

  1. Tata Letak Area

Untuk menegakkan manajemen proteksi kebakaran perlu diperhatikan tata letak area. Jika di dalam sebuah gedung wajib diketahui adakah pintu darurat, tempat penyelamatan jiwa, kondisi desain dan arsitektur yang memungkinkan orang bisa dengan mudah menyelamatkan diri dan lain sebagainya. Termasuk keberadaan alat pemadam kebakaran di area tersebut.

  1. Dampak Negatif Yang Mungkin Timbul

Di dalam tata kelola manajemen proteksi dari kebakaran memperhatikan tingkat resiko atau dampak negatif akibat kebakaran meskipun tadi disampaikan tindakan dilakukan tanpa pandang bulu tetapi ada prioritas dalam hal kesigapan langkah guna mencegah dampak kebakaran. Daerah yang banyak dihuni oleh manusia tentu mendapatkan prioritas utama. Kebakaran yang berakibat kerugian jiwa seperti asap yang berbahaya jika dihirup pada kebakaran hutan juga mendapatkan penanganan manajemen untuk proteksi kebakaran dengan prioritas tinggi.

Faktor Penghambat Tata Kelola Manajemen Proteksi Kebakaran

Sering kita mendengar bahwa kebakaran sudah melahap aneka bangunan, menelan korban jiwa dan meluas. Akankah kita lantas mempersalahkan pihak manajemen proteksi kebakaran? Terlambatnya penanganan dan tata laksana kelola proteksi kebakaran dipicu oleh beberapa hal sebagai berikut.

  1. Keterlambatan Mengenali Tanda Kebakaran

Kebakaran memiliki tanda atau gejala. Percikan bunga api kecil yang melahap sebuah benda adalah tanda. Jika ditengarai secara lebih dini akan mudah diantisipasi meluasnya api. Selain itu adanya alat pemindai terjadinya kebakaran sangat dibutuhkan. Anda dapat mencari tahu jenis-jenis alat pemindai kebakaran di TotalFire Indonesia. Alat ini menangkap sinyal adanya kebakaran bisa mendeteksi adanya panas dan bahan bakar di sebuah titik lokasi sehingga alarm akan berbunyi menandai ada titik api.

  1. Lokasi Yang Jauh Dari Pemadam Kebakaran

Kebakaran dipadamkan oleh air. Air bisa disemprotkan secara mandiri oleh warga setempat atau melalui petugas pemadam kebakaran. Jika lokasi sumber air, lokasi warga ataupun lokasi petugas pemadam kebakaran jauh dari area yang terbakar maka penegakan manajemen untuk proteksi kebakaran akan relatif lebih lambat.

Demikian mengenai manajemen proteksi kebakaran yang disampaikan oleh TotalFire Indonesia. Semoga bisa memberikan tambahan wawasan tentang pengeloaan proteksi kebakaran sehingga terhindar dari dampak serius.