Bangunan gedung merupakan sarana manusia beraktifitas. Dalam satu gedung dapat memiliki fungsi kombinasi. Dengan kata lain digunakan untuk beberapa macam kegiatan atau tujuan. Seperti rumah toko (ruko) atau apartemen dengan mall. Bangunan seperti ini mangsa empuk kebakaran. Api dapat menjalar cepat tanpa adanya sistem perlindungan dan pencegahan. Dengan teknik kompartemenisasi, meluasnya api dapat dihindari sedini mungkin.
Klasifikasi Bangunan Sesuai Peraturan Pemerintah
Kebakaran gedung tentu menjadi hal yang tidak diinginkan. Sebisa mungkin bencana ini harus dicegah menggunakan sistem fire fighting. Pemisahan dinding masuk dalam kategori sistem proteksi kebakaran pasif.
Teknik ini merupakan upaya mencegah meluasnya api dengan memberikan pembatas atau pemisah dalam konstruksi. PT TotalFire Indonesia dapat merancang sistem pemisah pada gedung. Sebelum membahas lebih jauh, kami akan menjelaskan klasifikasi bangunan sesuai peraturan pemerintah.
· Tingkat Kompleksitas
Level kompleksitas konstruksi terdiri dari tiga jenis, yaitu bangunan sederhana, bangunan tidak sederhana dan bangunan khusus. Ketiganya memiliki karakter dan fungsi tersendiri. Kategori ini berkaitan juga dengan penggunaan teknologinya.
· Tingkat Permanensi
Pada tingkat permanensi juga terdapat tiga jenis bangunan. Kategori ini terbagi menjadi permanen, semi-permanen dan sementara. Perbedaannya terletak dari segi waktu atau usia gedung. Jenis konstruksi permanen berfungsi hingga 20 tahun lebih. Semi-permanen berfungsi selama 5-10 tahun. Sedangkan yang sementara hanya difungsikan selama 5 tahun.
· Tingkat Resiko Kebakaran
Jika berbicara tentang kebakaran, keberadaan bangunan terbagi menjadi tiga. Ada konstruksi dengan tingkat kebakaran rendah, sedang dan tinggi. Pembagian ini mempertimbangkan jenis kegiatan dan komponen di dalam gedung. Dengan kata lain, di dalamnya terdapat unsur yang dapat menimbulkan kebakaran. Inilah yang perlu diwaspadai dan dicegah.
· Zonasi Gempa
Munculnya zonasi gempa tidak lain karena potensi gempa itu sendiri. Dalam klasifikasinya, jenis gedung terbagi menjadi zona I hingga zona VI. Konstruksi pada zona I berada di wilayah gempa yang sifatnya aktif. Sedangkan zona VI merupakan daerah yang cukup stabil dari guncangan.
· Lokasi
Lokasi konstruksi terdiri dari lokasi jarang atau renggang, lokasi sedang dan lokasi padat. Wilayah yang renggang, umumnya berada di daerah pedesaan dan pinggiran kota. Sedangkan wilayah padat bisa ditemukan pada area pusat kota.
· Ketinggian
Penentuan klasifikasi ketinggian ini berdasarkan jumlah lantai dalam gedung. Terdapat tiga jenis, yaitu bangunan bertingkat rendah, sedang dan tinggi. Dikatakan rendah jika memiliki jumlah maksimal 4 lantai. Untuk gedung bertingkat sedang memiliki 5-8 lantai. Sedangkan bangunan tingkat tinggi memiliki lebih dari 8 lantai.
· Kepemilikan
Klasifikasi kepemilikan terbagi atas gedung milik perseorangan, badan usaha dan pemerintah. Bangunan pemerintah secara sah merupakan milik negara. Sehingga tidak bisa diperjualbelikan dengan bebas. Biasanya berfungsi sebagai kantor pemerintahan atau keperluan dinas.
Fungsi dari Kompartemenisasi
Upaya pemisahan ruangan merupakan bentuk perlindungan terhadap bahaya kebakaran. Terutama pada gedung yang berpotensi kebakaran tinggi, memerlukan proteksi yang efektif. Pencegahan dan perlindungan tidak hanya dari kelengkapan perangkat. Tapi juga mempertimbangkan tata letak konstruksi dan ruangannya. Berikut ini beberapa fungsi kompartemenisasi:
· Mengurangi Intensitas Kebakaran
Metode pemisahan ruangan dapat mencegah kebakaran yang lebih besar. Penambahan dinding pelapis yang tahan panas memperlambat kobaran api. Sehingga api lebih mudah dipadamkan. Kombinasi dengan sistem fire fighting akan memberi peringatan dini pada manusia yang ada di dalam gedung.
· Mencegah Api Menjalar pada Bangunan Lain
Kebakaran tingkat rendah hingga sedang bisa dihentikan secepat mungkin. Tapi, bagaimana jika potensi fire hazards pada konstruksi cukup tinggi? Teknik pemisahan ini dapat mencegah api meluas ke tempat lain. Kobaran si jago merah akan tertahan pada ruangan atau tempat asal. Kecil kemungkinan untuk menjalar ke bangunan terdekat.
· Melindungi Orang yang Ada di Dalam Gedung
Adanya pengaturan tata ruang dapat melindungi orang dalam bangunan. Api dapat terhalang oleh pembatas. Sehingga tidak menyebar ke area lain. Bahkan perambatan api berjalan tidak terlalu cepat. Ini memberi kesempatan orang atau pekerja melakukan evakuasi. Dengan begitu, proses menuju titik poin dapat berlangsung secara cepat dan aman.
· Melindungi Petugas Pemadam Kebakaran
Kebakaran tingkat tinggi tidak hanya terjadi pada lingkungan kerja. Perumahan, apartemen, mall, perkantoran juga menyumbang bencana yang merugikan ini. Bencana ini sering muncul pada gedung kantor bertingkat dan daerah perumahan yang padat.
Sebagai pengendali api, petugas pemadam kebakaran membutuhkan akses yang mudah. Agar dapat menyemprotkan air atau bahan lain pada titik nyala api. Metode kompartemenisasi dapat melindungi jalan petugas dari nyala api.
Bentuk Proteksi Kompartemenisasi
Konstruksi yang menggunakan metode pemisahan tak lepas dari rancangan struktur bangunan. Dalam hal ini termasuk penggunaan bahan yang tahan dan mampu menghalau kebakaran hebat. Pemisahan tidak hanya pada gedung itu sendiri. Tapi juga pada gedung dengan resiko kebakaran rendah dengan resiko tinggi. Bentuk dari upaya pencegahan, antara lain:
Pemasangan Partisi Tahan Api
Penggunaan partisi yang tahan api dapat mencegah api menjalar pada ruangan atau gedung yang berdekatan. Benda ini berupa penutup yang terbuat dari material yang tahan terhadap api. Biasanya, partisi ini memiliki batas ketahanan yang sudah terukur. Dalam konstruksi sipil, pembatas yang dimaksud berupa dinding.
Pemasangan Penghalang Asap
Asap merupakan efek dari nyalanya api. Munculnya asap juga menjadi pemicu alarm kebakaran berbunyi. Tapi, limpahan asap dapat merugikan manusia. Pemasangan partisi pada gedung dapat membatasi pergerakan asap. Penghalang ini berfungsi sebagai pembagi ruangan.
Penggunaan Pelapis Interior
Pelapis interior digunakan pada perabot rumah atau tempat kerja. Meski terdengar aneh, tapi polesan yang tahan api ini sangat berguna. Terutama untuk menahan api semakin besar. Penggunaan pelapis ini harus sesuai dengan aturan “Persyaratan Teknis Keselamatan Jiwa”.
Sarana kompartemenisasi kini mulai diterapkan pada berbagai gedung. Terutama bangunan yang memiliki nilai komersial. PT TotalFire Indonesia memberikan layanan proteksi kebakaran secara profesional. Kami merancang sistem fire fighting berdasarkan standar global.
