
Sistem proteksi kebakaran dibagi menjadi dua jenis, yaitu sistem proteksi kebakaran aktif dan sistem proteksi kebakaran pasif. Mengetahui perbedaan keduanya sangatlah penting sebelum memilih jenis proteksi kebakaran untuk sebuah bangunan atau gedung. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap pengertian dan contoh proteksi kebakaran pasif. Yuk, langsung simak ulasannya berikut ini!
Contents
Pengertian Proteksi Kebakaran Pasif
Berbeda dengan proteksi kebakaran aktif, yang menggunakan peralatan untuk memadamkan api secara langsung (misalnya fire hydrant, tabung pemadam kebakaran, fire suppression system, fire sprinkler, dan lain-lain), proteksi kebakaran pasif adalah sistem yang dirancang melalui pengaturan penggunaan material dan struktur bangunan. Sistem ini merupakan alternatif efektif untuk melindungi fasilitas dari terjadinya kebakaran. Disebut pasif karena sistem ini tidak memerlukan aktivasi langsung.
Apabila lokasi bangunan sulit mendapatkan sumber air dan letaknya berada di daerah terpencil, maka sistem proteksi kebakaran pasif menjadi alternatif efektif untuk mencegah kebakaran.
Contoh proteksi kebakaran pasif umumnya menggunakan atau terdiri dari lapisan bahan yang tahan terhadap api. Misalnya, jendela atau pintu yang terbuat dari bahan tahan api sehingga mampu menahan penyebaran api. Selain itu, terdapat juga pelapis bahan interior yang dapat meningkatkan ketahanan permukaan interior terhadap api, sehingga berfungsi sebagai penghalang. Biasanya, sistem ini juga membentuk ruangan tertutup dan partisi yang berfungsi menghalangi asap, sehingga penyebaran asap menjadi terbatas.
Persyaratan pada Bangunan
Sistem proteksi kebakaran ini menekankan pada konstruksi dan material bangunan. Ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi oleh bangunan, yaitu:
- Tahan terhadap api dan memiliki struktur yang stabil.
- Perlindungan terhadap semua bukaan.
Bagian lubangnya harus diberi fire stop untuk mencegah api menjalar dan menjamin pemisahan serta kompartimenisasi berfungsi dengan baik. - Kompartimenisasi dan pemisahan.
Fungsinya adalah untuk membatasi api agar dapat melindungi seluruh penghuni yang berada di dalam gedung maupun bangunan di sekitarnya, sehingga api tidak akan menjalar dan menghanguskan bangunan lain. Selain itu, juga harus menyediakan akses bagi petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api.
Secara garis besar, yang dimaksud dengan kompartimenisasi adalah usaha untuk mencegah kebakaran menyebar. Contoh penerapan proteksi kebakaran pasif dapat dilihat pada penggunaan pembatas seperti lantai, dinding, dan balok yang tahan api. Dengan demikian, jika terjadi kebakaran, api hanya membakar ruangan atau bangunan itu sendiri tanpa menyebar ke ruangan atau bangunan lain.
Proteksi kebakaran pasif berperan dalam pengaturan penggunaan material bangunan dan interior guna meminimalisir intensitas kebakaran serta menunjang penyediaan jalur evakuasi yang aman. Hal ini dikarenakan kebakaran dapat tertahan di dalam ruangan untuk waktu yang cukup lama. Selain itu, proteksi pasif juga melindungi gedung dari kerusakan dan kehancuran, sehingga diharapkan dapat mengurangi kerugian materi (harta benda) dan mencegah jatuhnya korban jiwa.
Sistem pencegahan yang tidak kalah penting adalah dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai faktor-faktor pemicu kebakaran, bahaya yang ditimbulkannya, serta cara menghindarinya.
Selain sistem proteksi kebakaran pasif, sebuah bangunan juga harus dilengkapi dengan alat proteksi kebakaran aktif yang fungsinya untuk mendeteksi api dan asap jika terjadi kebakaran. Dengan alat ini, penghuni mendapatkan peringatan sejak dini bahwa kebakaran sedang terjadi. Sistem proteksi aktif dapat terintegrasi dengan pintu darurat atau jalur evakuasi. Saat terjadi peringatan, magnet yang terdapat pada pintu darurat akan otomatis lepas.
Kesimpulan dari Pembahasan
Apabila contoh proteksi kebakaran pasif yang telah kita bahas sudah memenuhi persyaratan, agar hasilnya lebih maksimal, maka harus dibarengi dengan tindakan preventif, seperti memberikan pelatihan tanggap darurat dan memasang tanda atau rambu evakuasi di setiap lorong.
Ada beberapa poin penting dalam memilih jenis proteksi kebakaran, baik aktif maupun pasif, di antaranya adalah: luas ruangan pada bangunan, material atau jenis barang di dalam bangunan, tingkat toksisitas material dan asap yang dihasilkan, jarak dengan instalasi lain yang dapat memicu kebakaran, akses serta fasilitas yang tersedia untuk memadamkan api, dan perkiraan waktu respons petugas pemadam kebakaran.
Demikian informasi mengenai penjelasan dan contoh proteksi kebakaran pasif. Semoga artikel ini menambah pengetahuan dan menjadi bahan pertimbangan jika Anda akan melakukan pembangunan gedung dengan merancang sistem kebakaran pasif yang tepat.
Buatlah perencanaan yang tepat mengenai aspek-aspek keselamatan dari risiko kebakaran dan rencanakan sejak awal agar bangunan tersebut benar-benar aman, baik bagi penghuni maupun lingkungan sekitar. Jika Anda ingin berdiskusi seputar fire protection terbaik untuk rumah, kantor, atau ruang usaha Anda, silakan hubungi TotalFire Indonesia.