
Kebakaran tidak terjadi begitu saja, tetapi selalu dipicu oleh sumber tertentu. Setiap jenis kebakaran memerlukan cara penanganan yang berbeda. Misalnya, api yang membakar tumpukan kertas membutuhkan metode pemadaman yang tidak sama dengan kebakaran akibat korsleting listrik atau ledakan tangki kimia. Jika jenis api tidak dikenali dengan benar, risiko yang muncul bisa sangat berbahaya. Penggunaan media pemadam yang salah bukan hanya membuat api sulit dipadamkan, tetapi juga dapat memperburuk keadaan dan mengancam keselamatan petugas pemadam.
Oleh karena itu, para ahli dari berbagai negara mencoba mengklasifikasikan berbagai macam jenis api agar mudah dipahami. Adapun pengklasifikasian ini bertujuan memudahkan usaha pencegahan dan pemadaman kebakaran. Klasifikasi kebakaran juga bertujuan untuk memudahkan pemilihan media (bahan) pemadam serta sarana proteksi yang tepat dan sesuai bagi suatu kebakaran sehingga usaha pencegahan dan pemadaman akan menjadi berdaya guna dan tepat guna.
Sebagai kontraktor fire protection spesialis sejak 2005, PT Totalfire Indonesia memahami bahwa pemahaman mengenai tingkat bahaya kebakaran dan kelas kebakaran adalah fondasi utama dalam merancang sistem proteksi gedung yang andal. Tingkat bahaya kebakaran penting diketahui guna memetakan potensi risiko yang mungkin terjadi. Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk mengetahui dan mengklasifikasikan tingkat bahaya kebakaran yang terjadi sehingga penanganannya pun dapat sesuai dengan kategorinya.
Contents
Klasifikasi Kebakaran dalam Manajemen Risiko
Klasifikasi kebakaran berperan sebagai bahasa universal bagi petugas K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), kontraktor, dan dinas pemadam kebakaran. Dengan peringkat bahaya yang jelas, kita dapat:
- Menentukan Kapasitas Proteksi: Menghitung jumlah air atau gas pemadam yang dibutuhkan.
- Efisiensi Biaya: untuk menghindari pemborosan dengan memasang sistem yang tepat sasaran.
- Kepatuhan Regulasi: Memenuhi standar SLF (Sertifikat Laik Fungsi) sesuai aturan pemerintah.
- Mitigasi Korban Jiwa: Meningkatkan efektivitas pemadaman karena alat yang digunakan sesuai dengan sumber api.

Peringkat Bahaya Kebakaran Berdasarkan Perda DKI No. 3 Tahun 1992
Di Indonesia, salah satu rujukan legal yang biasanya digunakan sebagai acuan mengenai peringkat bahaya kebakaran, khususnya untuk bangunan gedung, adalah Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 3 Tahun 1992. Perda ini masih digunakan sebagai rujukan di DKI Jakarta, meskipun pada praktiknya sering dipadukan dengan standar SNI dan NFPA. Standar ini membagi tingkat bahaya menjadi lima kategori berdasarkan kecepatan rambat api dan beban panasnya:
1. Bahaya Kebakaran Ringan
Pada tingkat ini, bahan-bahan di dalam ruangan beragam. Bahan-bahannya mudah terbakar namun tinggi tumpukannya tidak lebih dari 2,5 meter. Contoh: pabrik pengolahan makanan, gudang tekstil kecil, atau industri ringan.
2. Bahaya Kebakaran Sedang Tipe 1
Memiliki karakteristik api yang tidak terlalu cepat menjalar namun panas mulai terasa signifikan. Tumpukan material yang mudah terbakar bisa mencapai tinggi 4 meter. Contoh: industri pengolahan bahan, gudang bahan baku, atau fasilitas produksi menengah.
3. Bahaya Kebakaran Sedang Tipe 2
Memiliki karakteristik api yang tidak terlalu cepat menjalar namun panas mulai terasa signifikan. Tumpukan material yang mudah terbakar bisa mencapai tinggi 4 meter. Contoh: industri pengolahan bahan, gudang bahan baku, atau fasilitas produksi menengah.
4. Bahaya Kebakaran Sedang Tipe 3
Pada tingkat ini, potensi kebakaran sudah tergolong tinggi. Api menjalar cukup cepat dan panas yang dihasilkan berpotensi melemahkan struktur baja jika tidak dilengkapi proteksi kebakaran pasif. Industri yang masuk ke dalam kategori ini umumnya melibatkan banyak kayu atau kertas dalam jumlah besar.
5. Bahaya Kebakaran Tinggi
Ini adalah kebakaran dengan tingkat paling berbahaya. Bahan-bahan yang ada bersifat sangat mudah terbakar atau meledak. Api menjalar secara eksplosif dan panas yang dihasilkan sangat luar biasa. Contoh: kilang minyak, pabrik kembang api, pusat penyimpanan bahan kimia, dan pabrik cat. Area dengan peringkat ini umumnya memerlukan sistem pemadaman otomatis khusus seperti deluge, foam, atau sistem lain sesuai jenis bahaya.
Klasifikasi Kebakaran Berdasarkan Standar NFPA
Selain peraturan daerah, standar internasional juga menjadi acuan penting. Salah satunya adalah NFPA (National Fire Protection Association), organisasi yang berbasis di Amerika Serikat dan banyak digunakan secara global. NFPA membagi kebakaran menjadi empat kelas utama, yaitu:

Kelas A: Bahan Padat Non-Logam
Ciri dari jenis kebakaran pada kelas A adalah kebakaran yang meninggalkan arang dan abu. Unsur bahan yang terbakar pada umumnya mengandung karbon. Contohnya meliputi plastik tertentu yang bersifat padat dan meninggalkan abu, kayu, tekstil, kertas, karet, dan bahan sejenis lainnya.
Pada kelas A, media paling efektif adalah Air. Air bekerja dengan cara mendinginkan suhu material hingga di bawah titik nyalanya. Penggunaan sistem sprinkler otomatis sangat ideal untuk melindungi bangunan yang memiliki tingkat risiko Kelas A.
Kelas B: Bahan Cair dan Gas Mudah Terbakar
Kelas ini mencakup kebakaran yang melibatkan cairan kimia, bahan bakar, dan gas. Kebakaran kelas B sangat berbahaya karena sifat cairannya yang dapat mengalir dan menyebarkan api dengan cepat. Contohnya meliputi bensin, alkohol, minyak (cairan), serta gas LPG (gas mudah terbakar). Dalam kelas ini, bahan cair berupa golongan busa merupakan bahan yang cocok untuk memadamkan api.
Busa (Foam) adalah media terbaik untuk cairan karena mampu menyelimuti permukaan cairan dan memutus kontak dengan oksigen. Untuk kebakaran gas, penggunaan tepung kimia kering (dry chemical powder) atau CO2 lebih disarankan guna memutus reaksi berantai kimia api.
Kelas C: Kebakaran Listrik Bertegangan
Kebakaran kelas C terjadi pada peralatan elektronik atau instalasi listrik yang masih dialiri arus. Ini adalah jenis kebakaran yang paling sering terjadi di perkantoran dan apartemen. Ciri jenis kebakaran pada kelas C adalah kebakaran yang melibatkan peralatan atau instalasi listrik yang masih bertegangan. Contohnya: televisi, radio, ponsel, panel listrik, komputer, dan lainnya yang sejenis. Bahan pemadam yang tepat untuk kelas C adalah jenis bahan kering, yaitu tepung kimia atau karbon dioksida, media non-konduktif seperti gas CO₂ atau Clean Agent (FM-200 / Novec 1230) sangat direkomendasikan karena tidak merusak komponen elektronik dan tidak meninggalkan residu.
Kelas D: Kebakaran Logam
Meskipun logam terlihat sulit terbakar, dalam bentuk bubuk atau serpihan, logam tertentu dapat terbakar dengan suhu mencapai ribuan derajat Celsius. Contoh: natrium, magnesium, kalium, litium, titanium, dan aluminium dalam bentuk serbuk. Media pemadam untuk kebakaran bahan logam tidak dapat menggunakan air dan bahan pemadam lain seperti biasanya. Hal ini dapat menimbulkan bahaya, oleh karena itu, kebakaran logam membutuhkan media pemadam khusus berupa dry powder (seperti Metal-X). Media ini bekerja dengan cara menimbun dan mengisolasi logam yang terbakar agar tidak bereaksi dengan udara atau kelembapan.
Mengapa Memilih PT Totalfire Indonesia?
Setelah memahami klasifikasi kebakaran, langkah selanjutnya adalah memastikan sistem proteksi yang digunakan benar-benar sesuai. Di sinilah PT Totalfire Indonesia hadir sebagai mitra strategis Anda, dengan keunggulan:
-
Pengalaman sejak 2005, menangani ratusan proyek dari risiko ringan hingga tinggi
-
Sertifikasi ISO 9001 dan ISO 45001 untuk menjamin kualitas dan keselamatan kerja
-
Kepatuhan terhadap standar NFPA dan SNI, sehingga gedung Anda siap audit
-
Layanan EPC lengkap, dari desain, pengadaan, instalasi, hingga pemeliharaan
Sebagai penutup, perlu disadari bahwa mengetahui peringkat bahaya kebakaran bukan hanya tugas petugas pemadam, tetapi juga tanggung jawab setiap pemilik aset. Dengan memahami tingkat risiko sejak dini, Anda dapat menyiapkan APAR yang tepat, memasang detektor yang sesuai, serta merancang jalur evakuasi yang aman.
Jangan biarkan aset dan keselamatan orang-orang di sekitar Anda berada dalam risiko. Percayakan perlindungan gedung Anda kepada ahlinya. PT Totalfire Indonesia siap membantu Anda menciptakan sistem proteksi kebakaran yang aman, efisien, dan sesuai standar global.
Jika Anda memerlukan audit risiko, perancangan sistem, atau instalasi pemadam otomatis, hubungi PT Totalfire Indonesia sekarang untuk konsultasi gratis dan penawaran terbaik.