Instalasi Pemadam Kebakaran: Jenis APAR dan Kode Warnanya

Instalasi pemadam kebakaran adalah seperangkat sistem yang dirancang secara terpadu, menggabungkan sprinkler, hidran, dan fire extinguisher, dengan tujuan mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran. Idealnya, seluruh peralatan ini sudah direncanakan sejak awal pembangunan gedung, agar setiap komponen dapat ditempatkan pada posisi yang paling efektif.

Di antara ketiga komponen tersebut, alat pemadam api ringan (APAR) memiliki peran yang khas. Ia adalah lini pertahanan pertama, alat yang dipegang oleh orang pertama yang menemukan api. Namun justru karena sifatnya yang portabel dan mudah digunakan, APAR paling sering salah dipilih. Artikel ini membahas jenis-jenis APAR beserta kode warnanya, cara memilih yang tepat, dan satu hal penting yang sering luput: status Halon yang kini sudah dilarang.

Posisi APAR dalam Instalasi Pemadam Kebakaran

Sebagai bentuk perlindungan bagi penghuni gedung, pemilik bangunan umumnya memasang instalasi pemadam kebakaran, terlebih untuk sarana publik seperti rumah sakit, apartemen, hotel, rumah susun, dan pusat perbelanjaan.

APAR biasanya paling banyak ditemukan di setiap lantai gedung, bahkan pada sebagian apartemen hampir setiap unit dilengkapi APAR. Alasannya, APAR dirancang khusus untuk digunakan oleh orang pertama yang menemukan kebakaran, ketika api masih kecil dan belum menyebar.

Penting dipahami bahwa APAR memiliki batas kemampuan. Alat ini efektif untuk api tahap awal, bukan untuk kebakaran yang sudah membesar. Ketika api sudah melampaui skala tersebut, penanganan beralih ke sistem yang lebih besar seperti sprinkler otomatis dan hidran, sementara prioritas penghuni berubah menjadi evakuasi. Karena itu, APAR tidak pernah berdiri sendiri melainkan menjadi bagian dari lapisan proteksi yang lebih luas.

Dalam instalasi pemadam kebakaran yang dirancang dengan baik, ketiga komponen ini bekerja secara berjenjang. APAR menangani api pada menit-menit pertama saat masih sebesar tempat sampah. Sprinkler otomatis bekerja tanpa campur tangan manusia untuk mengendalikan api yang mulai membesar di area tertentu. Hidran menyediakan pasokan air bertekanan dalam volume besar, baik untuk digunakan tim tanggap darurat gedung maupun sebagai sumber tambahan bagi petugas pemadam kebakaran yang datang. Kelemahan pada satu lapisan akan membebani lapisan berikutnya, sehingga ketiganya perlu direncanakan sebagai satu kesatuan.

Jenis APAR Berdasarkan Media dan Kode Warnanya

APAR dibedakan berdasarkan media pemadam yang digunakan, dan setiap media memiliki peruntukan kelas kebakaran yang berbeda. Berikut jenis-jenisnya beserta kode warna yang umum dipakai sebagai penanda.

Media APAR Kode Warna Efektif Untuk Jangan Digunakan Pada
Water Merah Kelas A: kayu, kertas, kain Peralatan listrik, cairan kimia, minyak
Foam (AFFF) Krem Kelas A dan B, terutama cairan mudah terbakar Peralatan listrik bertegangan, logam
Carbon Dioxide (CO₂) Hitam Kelas B dan C, ideal untuk peralatan elektronik Ruang sempit tanpa ventilasi, logam
Dry Chemical Powder Biru Kelas A, B, dan C (serbaguna) Area produksi sensitif, ruang server
Wet Chemical Kuning Kelas K: minyak dan lemak masakan Peralatan listrik bertegangan

Catatan Penting tentang Kode Warna

Sistem kode warna di atas mengacu pada standar internasional yang banyak dipakai, khususnya British Standard. Di Indonesia, praktiknya sedikit berbeda. Tabung APAR umumnya berwarna merah secara keseluruhan sesuai standar identifikasi alat pemadam kebakaran, dan jenis medianya dibedakan melalui label atau band berwarna pada tabung.

Karena itu, jangan pernah mengasumsikan isi APAR hanya dari warna tabungnya. Selalu baca label dan simbol kelas kebakaran (A, B, C, D, K) yang tertera pada tabung sebelum menggunakannya. Menggunakan media yang salah bisa tidak efektif, atau justru memperparah keadaan.

Water Extinguisher

APAR berbahan air banyak ditemukan di ruang kelas sekolah dan area perkantoran. Media ini hanya efektif memadamkan api pada bahan padat seperti kayu, kertas, dan kain. Air tidak boleh digunakan pada bahan kimia organik yang tidak larut dalam air maupun pada peralatan listrik, karena air bersifat konduktif dan berisiko menyebabkan sengatan listrik yang fatal.

Sebagai pengembangan, kini tersedia media foaming agent atau bahan pembentuk busa yang dikenal sebagai AFFF (Aqueous Film Forming Foam). Media ini mampu menangani kebakaran cairan kimia dengan jauh lebih efektif dibanding air biasa.

Carbon Dioxide Extinguisher

APAR CO2 menggunakan karbon dioksida sebagai media pemadam. Saat disemprotkan, alat ini mengeluarkan partikel CO2 padat (dry ice) beserta selubung gas karbon dioksida yang menggantikan oksigen di sekitar api.

Jenis ini sangat cocok untuk memadamkan kebakaran yang melibatkan peralatan elektronik seperti instrumen laboratorium, server, dan komputer, karena tidak meninggalkan residu sehingga peralatan tidak rusak.

Namun ada peringatan penting. APAR CO2 tidak boleh digunakan di ruang sempit dan tertutup tanpa ventilasi memadai, seperti basement, karena gas CO2 menggantikan oksigen dan berisiko menyebabkan sesak napas hingga kehilangan kesadaran bagi penggunanya. Selain itu, CO2 juga tidak boleh digunakan pada kebakaran logam (kelas D).

Dry Chemical Powder Extinguisher

APAR jenis ini menggunakan serbuk kering yang bersifat inert, umumnya berupa campuran seperti mono-ammonium phosphate atau sodium bikarbonat. Cara kerjanya adalah memutus rantai reaksi pembakaran sekaligus memisahkan bahan bakar dari oksigen.

Dry chemical powder dikenal sebagai media serbaguna karena mampu menangani kebakaran kelas A, B, dan C, sehingga menjadi jenis yang paling umum dipasang di gedung perkantoran dan fasilitas umum. Kelemahannya, serbuk yang disemprotkan meninggalkan residu yang dapat merusak komponen elektronik dan peralatan produksi presisi, sehingga kurang ideal untuk ruang server, laboratorium, dan area produksi sensitif.

Foam Extinguisher

APAR foam menggunakan busa stabil yang didorong keluar dari tabung. Busa yang keluar menyelimuti permukaan bahan yang terbakar, memutus kontak antara bahan bakar dan oksigen sehingga api padam.

Jenis ini digunakan ketika media air tidak dapat dipakai, terutama pada area yang melibatkan minyak dan cairan mudah terbakar, karena air dan minyak tidak dapat bercampur dan justru dapat menyebarkan api.

Halon Sudah Dilarang, Ini Penggantinya

Satu hal penting yang perlu diluruskan. Banyak referensi lama masih menyebut APAR Halon (Bromochlorofluoromethane atau BCF) berwarna hijau sebagai pilihan untuk pabrik, workshop, dan laboratorium. Informasi ini sudah tidak berlaku.

Halon merupakan zat perusak lapisan ozon dan produksinya telah dihentikan secara internasional berdasarkan Protokol Montreal. Indonesia sebagai negara peserta protokol tersebut turut menerapkan larangan ini. Karena itu, Halon tidak lagi digunakan pada instalasi pemadam kebakaran baru.

Sebagai gantinya, tersedia clean agent modern yang memiliki karakteristik serupa, yaitu memadamkan tanpa meninggalkan residu dan aman bagi peralatan elektronik, namun tidak merusak ozon. Pilihannya meliputi halocarbon seperti FM200 (HFC-227ea) dan Novec 1230, serta inert gas seperti Inergen (IG-541) yang merupakan campuran nitrogen, argon, dan karbon dioksida. Media ini umumnya diterapkan dalam bentuk sistem gaseous fire suppression terpasang, bukan APAR portabel.

Memilih APAR yang Tepat untuk Bangunan Anda

Pemilihan APAR harus didasarkan pada kelas kebakaran yang paling mungkin terjadi di area tersebut, bukan sekadar mengikuti yang paling umum atau paling murah. Berikut panduan singkatnya.

Area APAR yang Disarankan
Kantor dan koridor umum Dry chemical powder (serbaguna kelas A, B, C)
Ruang server dan laboratorium CO₂ (tanpa residu, aman untuk elektronik)
Dapur komersial Wet chemical (kelas K untuk minyak masakan)
Ruang panel dan genset CO₂ atau dry chemical powder
Area penyimpanan bahan bakar Foam (AFFF) untuk kelas B
Area pengolahan logam Dry powder khusus kelas D

Selain memilih jenis yang tepat, penempatan dan perawatan juga menentukan. APAR harus dipasang di lokasi yang mudah dijangkau, tidak terhalang, dilengkapi penandaan yang jelas, serta diperiksa berkala untuk memastikan tekanan dan segelnya masih baik. Untuk pembahasan lengkap seluruh media pemadam, baca artikel kami tentang macam-macam media pemadam kebakaran, serta panduan pengelompokan kelas kebakaran di Indonesia.

Jika Anda masih ragu menentukan jenis APAR maupun konfigurasi instalasi pemadam kebakaran yang sesuai untuk bangunan Anda, PT Totalfire Indonesia dapat membantu. Sebagai fire protection specialist sejak 2005, kami melayani perencanaan, pengadaan, instalasi sistem proteksi kebakaran, hingga service dan maintenance berkala.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah warna tabung APAR di Indonesia menunjukkan jenis medianya?

Umumnya tidak. Di Indonesia, tabung APAR biasanya berwarna merah seluruhnya sesuai standar identifikasi alat pemadam kebakaran, dan jenis medianya ditunjukkan melalui label atau band berwarna pada tabung. Kode warna tabung penuh seperti hitam untuk CO2 atau krem untuk foam mengacu pada standar internasional tertentu, khususnya British Standard, yang tidak selalu diterapkan di sini. Karena itu, selalu baca label dan simbol kelas kebakaran pada tabung sebelum menggunakan APAR, jangan mengandalkan warna saja.

Mengapa APAR Halon tidak lagi digunakan?

Halon merupakan senyawa yang terbukti merusak lapisan ozon, sehingga produksi dan penggunaannya dihentikan secara internasional melalui Protokol Montreal. Indonesia turut menerapkan larangan tersebut. Meskipun Halon dahulu sangat efektif dan bersih untuk melindungi peralatan elektronik, kini fungsinya digantikan clean agent modern seperti FM200 dan Novec 1230, atau inert gas seperti Inergen, yang sama efektifnya tanpa merusak lapisan ozon.

Apakah satu APAR serbaguna cukup untuk seluruh gedung?

Tidak. Meskipun dry chemical powder efektif untuk kelas A, B, dan C sehingga sering disebut serbaguna, ada area yang membutuhkan media khusus. Ruang server sebaiknya menggunakan CO2 karena powder meninggalkan residu yang merusak elektronik. Dapur komersial membutuhkan wet chemical untuk kebakaran minyak masakan kelas K, karena media lain justru berisiko menyebarkan minyak yang terbakar. Area pengolahan logam memerlukan dry powder khusus kelas D. Pemilihan harus disesuaikan dengan risiko di masing-masing area.

Berapa lama APAR harus diperiksa dan diisi ulang?

APAR sebaiknya diperiksa secara visual setiap bulan untuk memastikan tekanannya masih berada di zona hijau, segel pengaman utuh, tabung tidak berkarat atau penyok, serta posisinya tidak terhalang. Pemeriksaan menyeluruh oleh teknisi dilakukan setidaknya setahun sekali. Untuk pengisian ulang, umumnya dilakukan setiap beberapa tahun tergantung jenis media dan kondisi tabung, atau segera setelah APAR digunakan meskipun hanya sebentar. Catatan pemeriksaan sebaiknya didokumentasikan sebagai bagian dari kepatuhan keselamatan bangunan.


Ditinjau oleh Muliawan Tjandra, CEO PT Totalfire Indonesia, pada 5 Agustus 2026. Informasi mengenai status Halon diperiksa terhadap ketentuan Protokol Montreal.